Computer science, Public Speaking, Social Media, Data Analysis, Research, Negotiation, Lecturing, Development, Organizational Development, Leadership, Image Processing
19 Oktober 2017
Oleh Dwiza Riana
Kalau ditanya sebagai orang tua, berita dan info apa yang ingin didengar dari guru? Sebagian tentu ingin mendengar berita-berita luar biasa perkembangan ananda di kelas.
Tapi terkadang, belum tentu sesuai keinginan kita. Bahkan sebagian besar orang tua menampung banyak masukan guru tentang aktifitas anak-anak di sekolah yang belum seoptimal yang diharapkan.
Tak pelak setelah bertemu guru, banyak juga orang tua jadi galau :) Beberapa sekolah menerapkan konsep PTI "Parents Teacher Interview".
Pertemuan antara orang tua dan guru untuk membahas perkembangan anak-anak didik di sekolah. PTI bisa menjadi solusi, karena jika interaksi orang tua dan guru hanya dilaksanakan saat pembagian rapor di akhir semester, berarti cenderung penyampaian hasil yang sudah final.
Berbeda dengan pertemuan singkat seperti PTI ini, yang dilaksanakan empat kali pertemuan di pertengahan semester dan akhir semester, bisa sangat bermanfaat dan efektif membangun sinergi orang tua dan guru.
Diskusi bernuansa privat dengan setiap guru mata pelajaran yang dijadwalkan dengan rinci untuk setiap orang tua. Walau bertemu hanya 15 menit tetap bisa memberikan kondisi yang leluasa bagi guru untuk menyampaikan perkembangan anak-anak didik di sekolah.
Sehingga orang tua bisa merancang proses pembelajaran di rumah yang mendukung usaha guru-guru mendidik siswa di sekolah. Sering orang tua tidak mendapatkan informasi yang riil secara langsung dari anak-anak mereka.
Beberapa hambatan bisa saja karena anak memang bukan tipe pencerita. Atau bahkan anak tidak bercerita kondisi riil, karena takut dimarahi orang tua, jika tingkah laku mereka belum optimal. Melaporkan hanya yang baik-baik saja.
Dalam kondisi seperti ini PTI menjadi solusi yang tepat. Pengalaman mengikuti PTI, masalah-masalah seperti buku catatan anak yang tidak lengkap karena anak malas mencatat. Anak tidak fokus belajar. Banyak ngobrol di kelas. Bahkan anak-anak yang menolak untuk belajar di pelajaran tertentu. Atau bahkan hal-hal positif yang membahagiakan orang tua seperti berhasil menjadi penanggung jawab kegiatan di sekolah. Menunjukkan sikap kejujuran.
Disiplin ananda yang semakin bagus. Rasanya sejuk jika info diterima langsung dalam suasana silaturahmi yang santai. Bersama-sama menemukan solusi terbaik. Memang penjagaan terbesar adalah ke Yang Maha Pemilik. Lantunan doa terucap dari hati para orang tua, untuk keberhasilan dan kelancaran studi anak-anaknya.
Semoga batin anak-anaknya bahagia dan memiliki tubuh sehat dalam perjuangan mereka menyelesaikan studi.
Catatan ini dibuat saat ada jeda waktu tunggu bertemu guru berikutnya.
Luar biasa rasa kagumku pada guru-guru yang sangat paham, mengenali dan detil mendeskripsikan muridnya.
Guru yang benar-benar mengenal muridnya. Aku menunduk dan membatin, sebagai seorang dosen apakah aku juga sudah sungguh-sungguh mengenal mahasiswaku?
(drz02-181017)
(...teringat sulungku 18 th yang berjuang di tahun-tahun pertama kuliahnya, tetap sehat dan bahagia ya nak!) #KomunitasDosenMenulis