Computer science, Public Speaking, Social Media, Data Analysis, Research, Negotiation, Lecturing, Development, Organizational Development, Leadership, Image Processing
22 Desember 2017
Oktober adalah bulan favorit di sepanjang hidupku. Hampir sebagian besar keluarga besar kami lahir di bulan oktober. Jadi bulan ini membawa kegembiraan yang luar biasa. Tapi semua itu beralih, Oktober 2015 aku tidak paham bagaimana menyatakan perasaanku. Sesuai rencana oktober akan menjadi hari bahagiaku karena tgl 16 Oktober 2015 adalah hari Wisuda S3 setelah empat tahun berjuang.
Sudah suratan takdir tepat 1 Muharram 1437 di tanggal 14 Oktober 2015. Wanita berhati baja itu berpulang. Getar tubuh dan jiwaku menerima berita duka itu.
Di atas jalan layang Pasopati aku tidak tahu apakah tubuhku bergetar karena tangis atau karena jalan yang tidak rata yang kulalui dengan ojek motor.
Tujuanku hanya satu menggapai titik temu pintu tol Pasteur tempat kami bersaudara berkumpul. Mengejar pesawat dari bandara Halim untuk menuju Palembang.
Dua tahun kusimpan kisah ini. Aku bukan wanita yang tegar. Saat ada kolegaku dari luar bertanya padaku, apakah aku sudah lulus atau tidak.
Aku baru sadar, ternyata ini cara alam bawah sadarku menyatakan kehilanganku. Kubuka laman FB ku di tanggal wisuda, tak banyak foto yang kushare, aku berduka.
Saat disalami rektor ITB aku menangis. Pak rektor bertanya, saat itu, kujawab
"Maaf pak, ibu saya baru berpulang 2 hari yang lalu". Wisuda dengan perasaan campur aduk, entah harus bahagia atau berduka.
22 Desember, hari ini hari ibu. Doa kulantunkan untuk mengenangmu. Wanita perkasa yang selalu ada di hatiku. Selalu ingat saat pertama kali engkau menyemangatiku ketika pertama kali merantau.
Senja itu, Agustus 1995, dari wartel kutelpon ke rumah, untuk mengabarkan aku diterima bekerja. Sungguh aku galau dengan pekerjaan baru ini, karena tanggung jawab jabatan yang aku harus terima, sebagai pembantu direktur bidang kemahasiswaan.
Memang kampusnya kampus baru saat itu. Sementara apalah saya, seorang anak lulusan S1 dari daerah. Gamang sekali menerima tanggung jawab sebesar itu. Masih kuingat kala itu jawabmu hanya satu,
"COBA!" Hanya satu yang tidak boleh dicoba, yaitu MATI"
Pengeras semangat itu telah pergi. Pelantun doa berkah sudah kembali ke haribaanNya. Berharap senantiasa aku juga dapat menjadi pengeras semangat dan senantiasa pelantun doa berkah bagi cucu-cucumu.
"Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghiran"
"Ya Tuhanku, ampunilah dosaku dan dosa ayah serta ibuku, kasihanilah mereka sebagaimana kasih mereka padaku sewaktu aku masih kecil". (drz18.221217)